
Jakarta, Warta Berkah Indonesia
—
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (
SBY
) mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa menghentikan penugasan pasukan penjaga perdamaian ke United Nations Interim Force in Lebanon (
UNIFIL
).
Ia menyampaikan itu sebagai respons atas gugurnya tiga prajurit TNI dan beberapa prajurit terluka pada operasi UNIFIL dalam sepekan terakhir.
“Seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” kata SBY dalam akun X-nya, Minggu (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY menyatakan satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Lebanon saat ini adalah untuk menjaga perdamaian (
peacekeeping
).
“Bukan
peacemaking
.
Peacekeeper
tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran,” ujar dia.
Ia menyatakan hal itu diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi ‘
to enforce the peace’
, dalam arti melaksanakan tugas yang lebih keras untuk sebuah
peacemaking
.
“Mereka bertugas di
blue line
atau di wilayah
blue zone
, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau
war zone
,” ucapnya.
SBY menekankan kontingen Indonesia pada hakikatnya bertugas di
blue line
yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Lebanon.
Namun, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar
blue line
kini sudah berada di
war zone
yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah.
“Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari
Blue Line
. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi
peacekeeper
karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung,” ujarnya.
SBY pun mendesak Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas.
Ia pun mendukung langkah pemerintah yang mendesak PBB melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil.
“Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka
peacekeeper
dari Indonesia itu terjadi,” ucap dia.
SBY mengakui investigasi mendalam di tengah situasi pertempuran memang tidaklah mudah. Tetapi tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya masuk akal.
Tiga prajurit TNI yang bertugas di UNIFIL gugur. Mereka gugur akibat serangan berbeda di Lebanon, mereka ialah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur.
Dalam pernyataannya, UNIFIL menyampaikan Praka Farizal Rhomadhon gugur akibat ledakan proyektil di dekat salah satu pos Indonesia di desa Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3).
Sementara itu, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur akibat ledakan dari sumber yang belum diketahui pada Senin (30/3).
Selain gugur, terdapat sejumlah pasukan TNI yang mengalami luka-luka.
[Gambas:Twitter]
(mnf/isn)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Warta Berkah]
Baca lagi: Amran Sebut Geopolitik Memanas Berdampak ke Petani Sawit
Baca lagi: Bukan Cuma Konser, KPop Demon Hunters Mau Gelar Tur Dunia
Baca lagi: Brooklyn Gelar Doa Bersama Usai Bayi 7 Bulan Tewas Tertembak



